tafsir ayat-ayat cintaNYA SURAH al-AHZAB ayat 10 - (bahagian 4)

Ketika mereka datang kepada kamu dari atas kamu dan dari sebelah bawah kamu dan seketika telah kacau-bilau penglihatan dan telah menyenak hati ke kerongkongan dan kamu menyangka terhadap ALLAH berbagai persangkaan.
(Surah al-Ahzab ayat 10)



"Ketika mereka datang kepada kamu dari atas kamu dan dari sebelah bawah kamu"
(Pangkal ayat 10) .

Inilah yang dibayangkan oleh Huzaifah bin Alyaman: "Di dalam itu kami duduk berbaris di tempat pertahanan kami berjaga-jaga. Abu Sufyan di tempat ketinggian di atas kami, Bani Quraizhah di sebelah bawah kami ; yang kami takuti mereka akan menyerang mengganggu anak-anak kami. Malam itu sangat gelap dan angin berhembus keras sekali. Suara angin menderu-deru seperti petir layaknya, sehingga jika diangkat jari-jari ke muka tidaklah akan kelihatan.

Untuk penangkis dingin dan sejuk itu saya menyelimuti badan dengan kain selimut yang diserahkan isteri saya , itu pun tidak sampai penutup lutut. Tiba-tiba datanglah Rasulullah ke dekatku , sedang saya duduk berkelumun kedinginan.

Lalu Rasulullah bertanya: " Siapa ini ? "
Saya menjawab: "Huzaifah !".
Lalu saya bersikap dengan baik di hadapan beliau.
Beliau bertanya sekali lagi : "Huzaifah?"
"Benar, ya Rasul ALLAH!", jawabku.
Lalu beliau menjatuhkan perintah : "Kamu pergi sekarang juga mengintip kaum itu. Selidiki sebaik-baiknya dan bawa khabarnya kepadaku".
"Baik!", jawabku.

Padahal saya sangat ketakutan akan pergi mencampurkan diri ke sana dan saya pun kedinginan.
Lalu Rasulul¬lah menadahkan tangannya ke langit memohonkan perlindungan ALLAH atas diriku. Tiba-tiba hilang takutku dan timbul beraniku. Dan beliau memesankan pula supaya saya berhati-hati jangan berbuat sesuatu yang mencurigakan dan kelak setelah mengetahui keadaan supaya segera kembali .

Saya pun keluar dalam kelam gelap gelita itu menuju tempat berkumpul mereka itu. Saya dapat melihat seorang yang tubuhnya tinggi besar mendekatkan kedua telapak tangannya kepada api unggun yang masih hidup , lalu diusap ke mukanya.

Dia sedang menyampaikan kehendak hatinya kepada pengikut-pengikutnya, bah¬wa penyerbuan ini tidak berhasil , perbekalan sudah habis , lebih baik segera saja pulang ke Mekah.
Melihat dia asyik berkata-kata demikian saya keluarkan anak panah dari kantongnya dan sudah saya sandarkan kepada busurnya , hendak saya panah dia di bawah nyala api itu .

Tetapi saya teringat pesan Rasulutlah, bahwa saya tidak boleh ber¬buat sesuatu sebelum saya pulang kepada beliau memberi berita.Ketika itu saya belum tahu bahwa orang itulah yang Abu Sufyan.Kerana teringat akan pesan Rasulullah saw. itu maka panahku aku kembalikan ke dalam kantongnya , lalu aku beranikan diriku dan aku masuk ke tengah-tengah askar yang banyak itu. Kebetulan aku masuk ke tengah-tengah Banu 'Amir. Sebab tidak lama aku ada di tengah-tengah mereka terdengarlah pemimpin mereka berseru: "Hai Banu 'Amir ! Segera kita berangkat ! Segera kita berangkat! kita tidak dapat lagi berhenti larma-lama di sini ".

Kata Huzaifah selanjutnya: "Memang aku dengar suara angin yang keras bertiup se hingga membangkitkan pasir-pasir dan batu-batu kerikil menimbuni alat-alat per siapan dan hamparan khaimah mereka , bahkan seluruh angin ribut yang keras itu telah memukul mereka."
Setelah melihat keadaan yang demikian , Huzaifah pun kembalilah kepada Nabi saw. Didapatinya beliau sedang sembahyang. Kerana kebiasaan beliau bilamana menghadapi hal-hal yang hebat itu beliau selalu sembahyang lalu memohonkan kurnia dari Tuhan.

Setelah beliau selesai sembahyang sunnat itu, maka Huzaifah pun lalu mendekati beliau dan menceritakan segala yang terjadi, bahwa angin ribut yang sangat keras itulah membuat musuh-musuh itu kacau balau dan mereka mulai meninggalkan tempat itu.

Itulah : yang dimaksud dalam permulaan ayat 10:

"Ketika mereka datang kepada kamu dari atas kamu dan dari sebelah bawah kamu".

Ertinya bahwa musuh telah mengepung dari segala pihak. Iaitu Quraisy yang datang dari sebelah Selatan dan hendak mengepung dari sebelah Selatan, Ghathfaan datang dari jurusan Timur dan Yahudi Bani Quraizhah pun telah belot dan khianat akan janjinya.

"Dan seketika telah kacau bilau penglihatan".

Ertinya ialah bahwa kerana musuh itu telah mengancam dari segala pihak seakan-akan goncanglah penglihatan , kejurusan mana akan dihadapkan perhatian, padahal musuh telah mengepung dari segala pihak. Akan dihadapi yang datang dari sebelah Selatan, yaitu orang Quraisy, namun bahaya Ghathfaan tidak kurang dari itu. Akan dihadapi Ghathfaan dan Quraisy, kalau ¬kalau Bani Quraizhah bangkit pula menyerbu.

Padahal jumlah musuh setelah bergabung tidak kurang dari 10.000 atau 11.000 orang. Sedang kaum Muslimin hanya sekitar 3000 orang saja, mungkin kurang. Itulah yang dimaksud dengan zhaagatil abshaar , iaitu berkacau bilau peng¬lihatan, entah ke mana akan ditujukan.
Sehingga kalau kiranya musuh yang 10.000 itu tergenggam dalam satu komando , mungkinlah hancur pertahanan Madinah waktu itu. Tetapi kelemahan mereka adalah kerana komando tidak satu, dan masing-masing tidak benar-benar percaya mempercayai.

"Dan telah menyenak hati ke kerongkongan".

Inilah kalimat yang tepat untuk menggambarkan rasa panik, kecemasan dan kekacauan fikiran. Iaitu yang terdapat dalam kalangan orang-orang yang bertahan di Madinah itu.

"Dan kamu menyangka terhadap ALLAH berbagai persangkaan".

Pada saat yang demikian itu boleh dikatakan penduduk Madinah mulai panik , mulai kacau fikiran. Timbullah berbagai persangkaan terhadap kepada ALLAH. Ayat yang selanjutnya menjelaskan berbagai macam persangkaan itu…..

BERSAMBUNG….

No comments: